Pura Tirta Empul.
Tirta Empul bermakna air suci yang menyembur dari dalam
tanah. Memang, di pura ini terdapat banyak air yang menyembul dari mata air
yang sangat besar. Pura ini terletak di Tampaksiring sebelah timur kawasan
Istana Tampaksiring, sebuah istana milik negara tempat di mana presiden RI
berisitirahat jika berkunjung ke Bali.
Prasasti Batu yang masih tersimpan di desa Manukkaya
menyebutkan pura Tirta Empul dibangun oleh Sang Ratu Sri Candra Bhayasingha
Warmadewa di daerah Manukaya. Prasasti ini memuat angka tahun 882 caka (960
masehi)..
Layaknya pura-pura lain di Bali, pura ini memiliki tiga
bagian yang merupakan jaba pura (halaman muka), jaba tengah (halaman tengah),
dan jeroan (bagian dalam). Pada Jaba Tengah terdapat dua buah kolam persegi
empat panjang, dan kolam tersebut mempunyai 30 buah pancuran yang berderet dari
timur ke barat menghadap ke arah selatan. Masing-masing pancuran itu menurut
tradisi mempunyai nama tersendiri. Satu di antaranya adalah pancuran
pengelukatan, pebersihan sudamala, dan pancuran cetik.
Pancuran cetik (racun) dan nama Tirta Empul ada hubungannya
dengan mitologi, yaitu pertempuran Mayadenawa, raja Batu Anyar (Bedulu) dengan
Dewa Indra. Dalam mitologi itu diceritakan bahwa raja Mayadenawa bersikap
sewenang-wenang dan tidak mengizinkan rakyat untuk melaksanakan upacara-upacara
keagamaan untuk memohon keselamatan pada Tuhan. Begitu perbuatan itu diketahui
oleh para dewa, maka para dewa yang dipimpin oleh dewa Indra menyerang
Mayadenawa.
Akhirnya Mayadenawa dapat dikalahkan dan melarikan diri.
Ketika pelariannya sampai di utara desa Tampaksiring. Dengan kesaktiannya,
Mayadenawa menciptakan mata air cetik yang mengakibatkan banyak para laskar
Dewa Indra gugur akibat meminum air tersebut. Melihat hal ini maka Dewa Indra
segera menancapkan tombak ke tanah. Dari lubang bekas tancapan itu muncul air
(tirta empul) yang berkhasiat memunahkan racun yang diciptakan oleh Mayadenawa.
Mitologi ini mungkin ada hubungannya dengan kedatangan raja
Majapahit ke Bali. Ekspedisi Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit yang
datang ke Bali pada tahun 1314 digambarkan sebagai Dewa Indra, sedangkan Sri
Astasura Bhumi Banten yang memerintah dan berkedudukan di Bedulu digambarkan
sebagai raja Mayadenawa. Menurut cerita rakyat setempat, mitologi Mayadenawa
juga dihubungkan dengan hari raya Galungan, hari terbesar umat Hindu di Bali.
Galungan adalah lambang perjuangan antara kebenaran melawan kejahatan.
Bertepatan dengan hari raya Galungan semua barong sakral
dari desa-desa yang ada di wilayah kabupaten Gianyar dimandikan dengan air suci
Tirta Empul. Barong adalah lambang dari kebaikan. Hingga sekarang, banyak
pengunjung Pura Tirta Empul mengambil air salah satu pancuran di sana dengan
keyakinan bahwa air tersebut dapat membuat mereka sehat dan awet muda.
Akses
Tampaksiring terletak 41 kilometer dari Kuta. Sekitar 1,5
jam perjalanan dengan mobil berkecepatan normal. Jalan menuju obyek wisata ini
sangat bagus. Terlebih obyek ini berdekatan dengan istana negera. Kamu dapat
menjangkau obyek ini dengan mudah.
Tiket
Rp 6 ribu per orang.
Pasar Seni
Di depan pura Tirta Empul terdapat pelataran parkir yang
sangat luas. Di dekat pelataran tersebut terdapat pasar seni yang menjual
beraneka barang kerajinan dan baju-baju bermotif dan bercorak Bali. Selalulah
menawar jika kamu hendak membeli sesuatu. Mungkin kamu akan mendapat setengah
dari harga barang yang ditawarkan pertama kali.

home

Home
Post a Comment